16 June 2016

Menjadi Perempuan Pintar



Sumber dari sini


Di suatu waktu, almarhum nenek pernah bercerita mengenai sepak terjangnya ketika muda. Masa itu ia merasa tidak mendapat kesempatan yang sama dengan teman – temannya yang pria. Nenek menganggap ia dikaruniai kecerdasan yang mumpuni bahkan bisa mengungguli teman – teman semasa HIS dulu. Beliau fasih berbahasa Arab, Belanda dan Jepang dalam waktu bersamaan tanpa belajar bahasa secara privat. Ya, nenek saya hidup dan tinggal dalam masa penjajahan.

Waktu itu, nenek lulus dari HIS dengan nilai yang sempurna, dan diminta oleh gurunya melanjutkan pendidikan ke MULO di daerah Kecamatan yang jauh dari rumah. Namun ayah nenek saya menolaknya. Beliau beranggapan anak perempuan sebaiknya di dapur dan di sumur, mengurus dan merawat rumah, tanpa memberi kesempatan si anak untuk melanjutkan pendidikannya.


Namun demikian nenek saya gak putus asa. Dilarang oleh sang Ayah untuk melanjutkan pendidikannya ke jejang yang lebih tinggi, nenek akhirnya memilih masuk pesantren untuk memperdalam bahasa Arab dan ilmu Agama. Yah memang sudah takdir, di Pesantren pun nenek mendapat nilai yang sempurna saat itu. Namun lagi – lagi sang Ayah menolaknya ketika ia diminta untuk berangkat ke Bukit Tinggi untuk memperdalam ilmu Agama lebih intens lagi.

Saat menjadi istri dan ibu, nenek tidak ragu dan malu untuk mengembangkan dirinya melalui berbagai kursus yang ia pelajari. Beliau belajar menjahit, menyulam, memasak dan membuat kue. Dan kemampuan yang diperolehnya sempat membantu beliau untuk menghidupi keluarganya. Duh rasanya kalau menulis tentang nenek saya tak ada habisnya. Buat saya beliau adalah perempuan pintar yang pernah saya kenal sepanjang hidup.



Awal menikah dulu, nenek sempat bertanya apa yang saya lakukan setelah menjadi seorang istri dan seorang ibu?apakah saya tetap bekerja ataukah di rumah saja?. Karena menurut beliau, sebagai seorang istri dan ibu, kita tidak boleh berdiam diri, pasrah dengan keadaan. Menjadi seorang ibu berarti kita dituntut menjadi perempuan pintar. Kan katanya anak yang pintar lahir dari ibu yang pintar. Pintar tidak hanya berarti lulusan sekolah tinggi saja. Maksudnya di sini, menjadi perempuan pintar adalah menjadi perempuan yang tahu menempatkan diri disetiap situasi yang ada, mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan menjadi perempuan yang banyak akal sehingga cakap melakukan segala hal dan mahir dalam melakukan sesuatu. Dan untuk menjadi seorang perempuan yang pintar, jangan malu dan ragu untuk belajar.


Memangnya kenapa perempuan harus pintar?

  1. Menjadi sekolah/madrasah bagi anak
    Ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya, setuju kan?Perempuan yang pintar insya Allah menghasilkan anak yang pintar. Pintar di sini tidak mlulu nilai – nilai di bangku sekolah ya, bisa saja tata krama, sopan santun, dan bahkan ilmu agama. Sebelum anak memasuki usia sekolah, ibulah guru baginya.
  2. Mandiri
    Dalam hal ini bisa saja mandiri dalam hal financial, pekerjaan rumahtangga dan lainnya. Perempuan yang mandiri dan pintar tidak akan banyak bergantung pada suaminya.
  3. Mampu beradaptasi
    Perempuan pintar lebih percaya diri, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
  4. Berwawasan luas
    Meskipun sudah menjadi ibu rumahtangga alias tidak bekerja kantoran lagi, perempuan pintar tetap mampu berdiskusi dengan baik dalam hal apapun dan menjadi sahabat diskusi bagi suaminya.
  5. Mau mengembangkan diri
    Sebagai perempuan kita tetap memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan diri, menerima dan mempelajari hal-hal yang baru. Jadi jangan ragu menjadi ibu rumah tangga maupun menjadi ibu bekerja bukanlah suatu halangan bagi perempuan pintar untuk tetap mengembangkan ketrampilan dan minatnya.

Nah itu deh perempuan pintar versi saya di Kamis Inspirasi ini. Kalau menurut teman – teman, perempuan pintar itu seperti apakah?seperti siapakah?
    “Percayalah, Perempuan Pintar adalah Perempuan idaman untuk jadi ibu bagi anak – anakmu kelak”

21 comments

  1. Mandiri dalam mengambil keputusan juga loh, pas suami kerja luar kota dan tidak bisa dihubungi. Tiba-tiba anak sakit dan mesti memutuskan sendiri, sering banget aku alamai, Sally.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba Wati, gak tergantung suami ya mba

      Delete
  2. Setuju dengan mba Sally... ibu pintar keluarga juga pintar... :)

    ReplyDelete
  3. Menjadi perempuan menurutku emang harus pintar, mba. Demi keluarga dan masa depan anak-anak. Terima kasih telah berbagi. Btw, neneknya mba keren yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mba...
      Iya dan aku baru menyadari setelah beliau gak ada. Hiks telat

      Delete
  4. Ibu itu guru pertama bagi anak2nya makanya ibu harus pintar dan jangan berhenti belajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar apapun dan kapanpun yaa

      Delete
  5. Banyak perempuan yang lebih pintar dari laki-lakinya..
    Anak pintar biasanya lahir dari perempuan pintar juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan setiap perempuan wajib memperkaya diri dengan ilmu, apapun...

      Delete
  6. Wah neneknya hebat Mbak Sally. Bener perempuan itu harus pinter, krn pendidik utam anak adalah ibu (perempuan).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak, nenek menjadi hebat dengan caranya.

      Delete
  7. Mesti belajar dr spirit neneknya mbak sally nih ... Tfs ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali mba..

      Delete
  8. Keren nenenknya mba. Semangat juangnya untuk menjadi pintar patut diwarisi generasi sekarang agar makin banyak perempuan pintar..

    ReplyDelete
  9. Wanita harus pintar karna mereka bakal jadi ibu yg mendidik anak2 nya #eeap

    ReplyDelete
  10. Untuk menjadi wanita pintar setidaknya ita harus terus belajar dan jangan mudah menyerah, karena kita semua akan menjadi panutan bagi anak-anak kita kelak. Terimakasih atas tulisannya yang bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba :)

      Delete
  11. Saya setuju banget dengan opini mbk Sally dalam artikel kerennya ini tentang perempuan yng pintar bisa menempatkan diri sebagaimana mestinya.

    ReplyDelete

Tanda sayang

© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall