05 June 2017

Hadiah Untukmu, si Kesayangan Kami



Sebelum saya bertemu pak suami, dan berkenalan dengannya, seorang teman pernah mendoakan saya. "Mbak, gue doain akhir tahun ini loe ketemu sama seseorang yang sejiwa sama loe yak. Mau ngertiin loe, dan yang pasti sayang sama loe, jangan kaya yang udah - udah". Laki laki ini saya kenal diawal Desember 2005 silam di sebuah situs chatting yang terkenal saat itu.  Laki – laki yang apa adanya, bukan ada apanya. Laki – laki yang mengutamakan kejujuran, kerja keras dalam menghadapi hidup. Laki Laki – laki yang mau menyelaraskan pandangan, pemikiran, dan idenya menghadapi hidup bersama dengan saya, yang dapat tertawa bersama. Laki – laki yang dengan segala kesederhanaannya memiliki prinsip tidak ingin menyusahkan keluarga besarnya, tidak ingin menyusahkan orang tua, dan memilih mandiri, berdiri di atas kakinya sendiri ketimbang hidup senang menggantungkan diri pada orang lain.  laki - laki yang di kemudian hari membuat saya memiliki banyak harapan dan impiannya bersamanya.


Sesaat sebelum menikah, banyak hal yang kami perjuangkan bersama. Restu keluarga, keuangan, pekerjaan, hingga mantan pacar yang masih kepo menanyakan kabar. Khusus untuk si mantan pacar, ternyata masing - masing perlu keikhlasan diri menerima apa yang terjadi. Alhamdulillah, satu persatu masalah dan keresahan yang ada bisa kami hadapi. Semua masalah yang ada ternyata malah menguatkan hubungan kami hingga kejenjang pernikahan.

Foto bareng, gak pernah ada gaya yang bener 😄😄

Awal menikah, dengan keuangan yang belum stabil, anak pertama kami lahir. Detik - detik menjelang persalinan, drama ASI hingga kisruh dengan keluarga membuatnya tampil menjadi sosok yang berani membela saya. Disaat itu, saya melihatnya sebagai seseorang yang menepati janjinya untuk bertanggung jawab terhadap keluarga. Kerja hingga larut malam demi mencukupi kebutuhan sang buah hati. Mengesampingkan keinginan diri, mengutamakan keluarga kecilnya.


Di 2014, ia pernah memberikan saya kejutan, dinner di Valentine's day

Di pertengahan 2015, selain berstatus sebagai karyawan, pak suami mendaftarkan dirinya sebagai pengemudi transportasi online. Awalnya saya sempat tak setuju, takut pak suami kecapean. Ya maklum kan tinggal di Jakarta dengan kemacetan yang bikin frustasi, lalu sepulang kerja mesti mencari tambahan. Namun ia kekeuh untuk tetap menjalankan niatnya. Tenang saja 'bu, pasti bisa deh katanya menenangkan saya. Padahal tak jarang ia tiba di rumah hingga pukul 01.00 dini hari. Setelah jam kerja usai pukul 17.00, pak suami mencoba mencari beberapa customer.


Rumah kami di Jakarta Timur, kantor pak suami di Jakarta Barat, setiap hari ia berangkat pukul 6.00 pagi dan tiba di rumah paling cepat pukul 23.00 selama hari kerja. Sabtu dan minggu tak jarang ia habiskan di jalanan, demi apa lagi kalau bukan demi kedua anaknya. Tapi ketika saya menanyakan hal ini, apakah pak suami keberatan dengan pilihannya, ia menjawab kalau ia menikmatinya. Pernah juga satu kali saya menanyakan, apakah ia gak gengsi menjalani semua ini? Sambil tersenyum ia menjawab mengapa mesti gengsi, wong apa yang dilakukan halal. Tidak merugikan orang lain. “Gengsi gak bakalan membuat kita kenyang ‘bu. Gak bakalan bisa dipakai untuk bayar uang sekolah, untuk mengajak kamu dan anak – anak jalan – jalan” ujarnya lagi.  Melihat perjuangannya, membuat saya meleleh juga. Apa yang bisa saya lakukan untuk menyenangkannya? Membalas apa yang telah ia lakukan bagi saya dan anak – anak. 



Menulis ini kembali, membuat saya teringat. Beberapa waktu yang lalu pak suami sempat mengutarakan keinginannya untuk memiliki sebuah helm, sebagai perlengkapan penunjang pekerjaannya. Harga helm yang ditaksir pak suami cukup lumayan di toko helm langganannya. Hahaha mesti kumpulin kardus bekas dulu buat beli helmnya, canda saya sewaktu mendengar harga yang ia sebutkan.  Pak suami hanya tertawa mendengarnya. “Iya kan demi keselamatan diri juga ‘bu. Ada harga ada rupa kan. Ini Helm Fullface. Tadi sih aku lihat ada di Elevenia. Harganya lebih murah dari toko Koh Derry. Tapi uangnya belum cukup, nabung lagi deh di celengan ayam” ujarnya.

Warnanya, warna kesayangan kami


Penasaran, saya pun mencari di kategori Spot/Hobby/Automotif helm yang dimaksud. Harganya cukup bikin saya mengeyitkan dahi, “bisa dapat beras berapa kilo tuh”. Ish ish tapi demi keselamatan orang yang tersayang  gpp ya😍😍. Apalagi ini demi si kesayangan kami serumah. Oiya tentu saja plus kuota Xtra Combo dari Xl agar pak suami etap mudah dihubungi

Inilah yang dilakukan suami tersayang disela waktunya




September nanti, tepat 10 tahun usia pernikahan kami. Tahun – tahun yang kami berdua lewati dengan perjuangan, air mata, gelak tawa, doa dan harapan. Insya Allah akan ada 10 tahun berikutnya dan berikutnya lagi. Hingga salah satu dari kami dipanggil Yang Maha Kuasa.

Suamiku tersayang,
Pertama kali kita bertemu kala itu
Tak terbayang apa yang akan kita hadapi bersama
Melewatinya, memperjuangkannya...

Sepuluh tahun dalam bahtera rumahtangga
Semoga semakin menguatkan cinta kasih kita
Menjadi suri tauladan bagi anak – anak
Dan menua bersama hingga maut memisahkan

Semoga, rasa cinta ini selalu ada
Bersama selamanya.....
















13 comments

  1. Hadewwww puisinya romantis habis

    ReplyDelete
  2. Wow.. aku ngebayangin pak suami baca bagian akhir. Langsung dipeluk itu Sally :D
    Btw, semoga berbahagia selalu ya.. *Aamiin

    ReplyDelete
  3. so sweet banget mbak Sally dan keluarga, ikut bahagia deh bacanya, semoga langgeng terus ya mbak :-)

    ReplyDelete
  4. adih jadi baper... udah lama juga ga nulis puisi buat suami..he2.. malah parah ultahnya kelupaan...

    ReplyDelete
  5. Hwaaaa sweet bangeet. Helm spt itu emang mahal yaa. Yaa bahannya juga kan yang berkualitas, yg tahan benturan

    ReplyDelete
  6. Helm emang penting. Apalagi buat pemotor di kota besar. Jangan lupa masker juga ya. Meski helm fulface debu kotoran dan polusi tetap harus kita antisipasi

    ReplyDelete
  7. so sweet deh Mba Sally. Btw yang pose fotonya paling bener cuma Fara :))

    ReplyDelete
  8. sweet banget, semoga tetep jadi keluarga yang mawahdah ya mbak.

    ReplyDelete
  9. Ah terharuuuu, sukses untuk pak suami dan keluarga ya, bahagia selalu ya mbak

    ReplyDelete
  10. waduh jadi keluarga idaman ini mah euy
    jadi ngiri nie heheheee
    pokoknya mah semoga seneng selalu lah

    ReplyDelete
  11. puisinya indah banget mbak.
    pasti pak suami kelepek2 tuh

    ReplyDelete
  12. perjuangan sang suami demi menafkahkan anak dan isttri
    terharuh banget bacanya nie

    ReplyDelete
  13. suami yang bertanggung jawab terhadap keluarganya
    bisa jadi motivasi buat calon suami nie

    ReplyDelete

Tanda sayang

© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall