19 March 2009

Hati - hati terhadap Dokter (from milis SMA 62 )

Posted by: "Billy N." billy@konsulsehat. web.id yahrapha

Thu Mar 5, 2009 7:43 pm (PST)

halo rekan-rekan. ..
Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta
rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan
Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor'
(produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .
Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit
demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di
salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD
saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi
sangat saya tau perkembangan kondisinya.
Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak
mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak
demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.
Mulai di UGD sudah 'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya
dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai
keterangan/penjelas an & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya
'menggelikan' .
Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya
terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu.
Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru
tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa
itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat
Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, &
nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke
mengantarkan sampel darah ke lab.
Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal
besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti
ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep
nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang
praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus &
pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore
selalu ada di RS.

Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab
macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya
minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.
Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak
komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat
untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung,
di resep tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang
sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah
sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang
nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal
Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak. Saya sampai cek di
internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau
kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli
suplemen vitamin aja dari resep.
Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya
jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah
seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter &
saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya
pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani
surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. Saya
beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani,
itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara dokter saat
visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan. Saya
tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'.
Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD
juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal &
sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada
infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang
lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong
'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya',
visite nggak sampai 3 menit saya hitung.
Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak
komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya
ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang.
Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun
ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa
diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli
obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah
'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien
sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya
untuk menunggu dokter visite.
Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya
yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa
bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan &
jadi racun di tubuhnya.
Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat
inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil
Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat
yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya.
Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat
kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga
bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar
berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.
rgds

Billy.


Email ini gw dapetin dari milis SMA gw. Ironis banget ya....dokter2 yang doyan kasi resep ke pasien...padahal resepnya ga penting cuma agar kita sebagai pasien merasa tenang sudah dikasi obat sama dokter. Dan bodohnya lagi, sangking kita percaya sama dokter yang emang udah sekolah bertahun2 jadi udah ngelotok tuh segala jenis obat dan kegunaannya (hellooo...dokter kan juga manusia...), kita jadi suka ga waspada ketika menerima obat. Obat yang diresepkan pun terkadang bukan obat jenis harga yang murah meriah muntah. Jadi setiap kali sakit kita minum obat = menumpuk racun dalam tubuh donk. Terus..kalo dari bayi ketika sakit aja udah minum 3 -4 jenis obat.....apa jadinya ketika bayi itu dewasa??? Prinsip gw sekarang, setiap kali ke rumah sakit, terima obat, tebus resep....gw selalu bertanya dan bertanya. Entah kegunaannya, nama obatnya ataupun kontraindikasinya. Bukan kenapa2....tapi ini kan demi kepentingan kita juga. Demi tubuh kita, anak kita or keluarga kita. Dan gw rada ga respek sama dokter2 yang menyepelekan pengetahuan pasiennya....yang mengganggap pasien secara dia orang awam...jadi dia ga tau apa2 pastinya. Et dah..udah jamannya internet kalii....emang ga bisa cari tau or browsing ma Oom gugel???Jadi mengikuti perkataan bang Napi di salah satu acara berita.....Waspadalah...waspadalah :D

9 comments

  1. Bener banget, jangan percaya gt ajah ma obat yg dikasi dokter. Aku jg klo anakku dikasi obat ma dokter, selalu aku cari dulu tu obat buat apa siy, klo dikasi antibiotik malah suka kubuang ajah krn aneh siy dokter di sini, apa2 dikasi antibiotik padaal sakitnya ga parah2 amat

    ReplyDelete
  2. ngeri banget ya.. Kak. apalagi yg ngga ngerti ilmu obat kayak diriku ini pasti iya iya aja deh.. klo dikasih obat/resep ama dokter. main tebus aja..
    yang jelas keluarga kami anti dg yg namanya antibiotik...
    BTW, benerkah katanya obat itu salah satu bisnis dari para dokter.. krn semakin banyak kita gunakan obat dari suatu produk, akan banyak bonus yg kita terima. Karena ipar yg dokter smp ditawari jalan2 ke luar negeri tuh.. enak banget ya??

    ReplyDelete
  3. @mba Vera,...
    sama Mba,..aku juga gitu kalo ke dokter. Suka bawel tanya2 obat yg dikasi. Kalo di kasi puyer malahan nambah napsu semangat nanya nya:D SAmpe2 aku lupa ma yg sakit...lebih konsen nanya ke dokter nya :D

    @Kak Peni,..
    Aku dan suami juga gitu kak...lagi berusaha untuk ga selalu ke dokter ketika sakit. Denger2 sih gitu, dokter dapet bonus kalo dia kasi obat dari 1 produk. Kan ada hari kunjungan sales obat ketemu dokter. Kalo di Rs. Haji Jakarta tiap selasa dan kamis ada kunjungan sales. Mereka ya nawarin plus minta tanda tangan si dokter :D

    Namanya juga bisnis kak...pasti ada untungnya :)

    ReplyDelete
  4. wah makasih teman infonya...sangat berguna untuk waspada niy....^^

    ReplyDelete
  5. iya, kadang jadi pusing sendiri siapa lagi yang mestinya kita percaya. kalo gitu buat apa ke dokter kalo gak percaya2 amat, kita pun minum obatnya jadi berkata2.

    emang ujung2nya mending alternatif kalo gitu ya..

    ReplyDelete
  6. Hmmm ini aq baca di milis afb bbrp waktu lalu.
    Yah secara aku kmrn pernah alami pengalaman ga enak dgn dokter wkt Vaya sakit, skrg aq jd lbih berhati-hati lagi.......

    ReplyDelete
  7. Aku jg klo anakku dikasi obat ma dokter, selalu aku cari dulu tu obat buat apa siy, klo dikasi antibiotik malah suka kubuang ajah

    ReplyDelete
  8. bner banget .. thank info nya ..

    ReplyDelete
  9. jadi hurus lebih berhati hati ....

    ReplyDelete

Tanda sayang

© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall