22 July 2019

Memahami Pola Pengasuhan Orang Tua sebagai Kunci Kecerdasan Anak




Tahun ini Fadly memasuki tahun terakhirnya di  Sekolah Dasar. Iya, Fadly sekarang kelas 6, mulai masa – masa crutial mengingat saat PPDB nanti, nilai UN masih menjadi penentu apakah ia layak diterima di SMP idaman atau tidak.


Oleh karena itu sejak awal masuk sekolah ini, saya lebih sedikit ekstra terhadap Fadly. Menanyakan apakah ia sudah mengerjakan PR setiap malam, mengecek buku latihan dan tugas – tugas sekolah. Sejujurnya saya jadi lebih parno dan berusaha untuk menemani Fadly belajar di sela – sela kegiatan lainnya. Di kelas 4 dan kelas 5 kemarin, saya lebih kendor untuk urusan PR dan tugas sekolah. Bahkan ulangan harian dan saat  UAS pun, saya percaya Fadly bisa belajar sendiri.



Memang sih setiap anak memiliki kemampuan menguasai pelajaran yang berbeda – beda. Contohnya saja saya dan pak suami. Kami berdua memiliki kemampuan berbeda dalam menguasai pelajaran di sekolah, dulu. Kalau saya lebih memilih sejarah dan pengetahuan sosial, pak suami lebih menyukai matematika, statistik dan segala hal yang berurusan dengan angka. Jadi wajar saja kalau Fadly pun memiliki minat dan kemampuan menguasai pelajaran yang berbeda dengan teman – teman lainnya.


Untuk membantu Fadly siap menghadapi pelajaran di sekolah, kami pun membuat waktu belajar bersama.  Saya yakin sebagai orang tua kami harus  saling mendukung, berdiri  di samping bapak / ibu guru  untuk membantu kesuksesan anak, mengarahkan sesuai dengan minat dan bakatnya.


Sejauh ini Fadly mengalami kendala di pelajaran matematika. Entah karena ia kurang konsentrasi atau memang belum mengerti dan menguasainya, mengakibatkan beberapa kali Fadly mendapat nilai di bawah rata – rata. Pak suami yang berkemampuan dalam hal ini sempat kecewa dengan hasil yang diterima Fadly. Tetapi saya yakin Fadly sebetulnya mampu, hanya saja ia mesti aktif mengulang pelajaran yang diterima, agar tidak mudah lupa.



Ketimbang marah – marah dan menyalahkan pihak lain, saya lebih memilih instropeksi diri, membenahi pola pengasuhan yang ada. Apalagi pengasuhan anak  selalu dinamis, mengikuti usia dan tumbuh kembang anak. Beruntung  pada tanggal 18 Juli 2019, saya diajak untuk menghadiri acara bertemakan parenting education “How Discover Your Child’s Potential” bersama ibu Diana Lie, M.Psi, Psikolog AJT Cog Test, yang berlangsung di Rojiro Café, Radar Auri, Depok.

Foto by Mamacomm


Seringkali orang tua memberi label negatif pada anak, “Nakal, Pemalas, Bodoh” ketika mengetahui anak mengalami kesulitan belajar atau memahami sesuatu.  Padahal sejatinya orang tua mencari penyebab mengapa anaknya mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran, alih – alih memberi labelling padanya.



Dalam penjelasannya ibu Diana bilang bahwa orang tua perlu mencari tahu dan memahami profil  kognitif anaknya sehingga dapat membantu anaknya mengatasi kesulitan yang ada. Bagaimana pun juga orang tua turut berperan dalam kesuksesan anak, selain guru/pendidik di sekolah.


Untuk itu ibu Diana mengatakan bahwa pola pengasuhan yang tepat dan potensial mapping pada cara belajar , dapat membantu anak memahami gaya belajar yang sesuai dengan kecerdasannya. Apa saja gaya mendidik dalam teori Baumrind ;
  • Otoriter : dikenal juga dengan pola pengasuhan tipe pemaksa, dimana anak wajib mengikuti peraturan yang sangat ketat tanpa adanya diskusi. Pola pengasuhan model ini tidak mentolerir adanya kesalahan kecil.
  • Otoritaria/demokratif  : pola pengasuhan dengan tipe ini sangat disarankan, karena antara orang tua dan anak selalu tercipta diskusi dan keterbukaan. Aturan yang ada pun merupakan hasil kesepakatan orang tua dan anak.
  • Permisif :  pola pengasuhan ini selalu mengikuti kemauan anak, orang tua selalu ikut campur dan hadir dalam setiap keputusan yang diambil anak. Tipe ini biasanya menganggap anak adalah Raja yang harus selalu diikuti kemauannya, sehingga anak kurang menghargai keberadaan orang tua dan orang lain dalam hidupnya.
  •  Neglect ( tidak diperdulikan) : sedangkan pola pengasuhan ini membuat anak tidak memiliki control akan dirinya. Tanpa aturan dan tidak memiliki perhatian pada sekitar. Orang tua lebih sering mengganti kehadiran dirinya dalam bentuk uang atau materi karena kesibukan.
Nah kira – kira buibu termasuk gaya parenting yang mana kah?



Ibu Diana mengingatkan, untuk mengetahui profil kecerdasan anak, selain memiliki pola pengasuhan yang sesuai, tidak lupa juga dibutuhkan komunikasi yang baik, dari hati ke hati. Selalu dengarkan penjelasan anak terlebih dahulu, dan meresponnya kemudian. Saat berbicara dengan anak, sejajarkan pandangan mata, jangan menganggap anak seperti bayi yang tak memiliki pendapat. Ketika marah, tenangkan diri terlebih dahulu, baru kemudian mendiskusikan masalah dan mencari jalan keluarnya. Sehingga tidak perlu ada keputusan yang dibuat dalam amarah. Tanamkan rasa percaya pada anak, dan jelaskan hal – hal yang dilarang atau tidak diperbolehkan, anak akan mengerti. Kedekatan secara fisik tetap perlu, meskipun mereka telah beranjak besar. Jadi jangan ragu untuk memeluk anak di setiap kesempatan.




Selain selalu mengedepankan komunikasi dari hati ke hati, ibu Diana Lie juga mengatakan konsisten dalam menerapkan disiplin pada anak, akan membuat pola pengasuhan berjalan dengan sebagaimana mesti dan memudahkan orang tua untuk mencari tahu karakter dan profil kognitif pada anak.




Berkenalan dengan PT Melintas Cakrawala Indonesia


Siang itu, hadir juga bapak Ari Kunwidodo, Direktur Utama PT Melintas Cakrawala Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, bapak  Ari  menjelaskan bahwa PT Melintas Cakrawala Indonesia merupakan satu – satunya lembaga penyedia tes kognitif yang menggunakan AJT CogTest di Indonesia.  Setelah pengembangan dan penelitian lebih dari empat tahun, AJT CogTest merupakan Test Kognitif pertama di Indonesia yang sudah dinormakan sesuai standar internasional.


Di kesempatan kemarin, bapak Aji menyampaikan mengapa “Tema How to Discover Your Child’s Potential “ dijadikan pembahasan karena masih banyak orang tua yang bersemangat untuk membantu dan mendukung anaknya untuk sukses, namun ternyata hal tersebut justru membuat anak menjadi tertekan  dan enggan berusaha lebih giat.


Oleh karena itu hadirnya AJT CogTest sebagai alat  untuk mengindentifikasi alat ukur kecerdasan  agar anak bisa belajar secara efektif. Test ini dapat dilakukan oleh anak usia 5 hingga 18 tahun, di mana test ini sudah dikembangkan bersama Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada dan tentu saja sudah sesuai dengan anak Indonesia.



Menurut bapak Ari, AJT CogTest ini juga sudah dipakai sebagai alat test kecerdasan di beberapa sekolah (pilot project) di beberapa sekolah, antara lain ; Sekolah Cikal, Sekolah IPEKA, Sekolah PSKD, dan sekolah anak berkebutuhan khusus. Beliau juga berharap setelah mengikuti acara ini, orang tua yang datang dapat berbagi ilmu parenting dan dapat lebih memahami profil kognitif anak sejak dini.


Foto by Mamacomm


Saya pun jadinya tertarik ingin mengajak Fadly untuk mencari tahu apa sebenarnya profil kognitif Fadly sehingga bisa lebih optimal lagi dalam belajar. Doakan yaa....


foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Foto by Mamacomm


Oiya, untuk informasi lebih lengkap mengenai test kognitif bisa melalui :

atau bisa langsung datang ke 
PT. Melintas Cakrawala Indonesia
Graha Irama 5th floor Unit F
Jl. HR. Rasuna Said X-1 Kav. 1-2 Jakarta 12950
(021) 5261487
email : info@melintascakrawala.id







10 July 2019

Nostalgia di Gramedia Matraman, Asiknya Numpang Membaca Buku





Selama liburan sekolah ini, saya dan pak suami kembali memberlakukan masa-masa tanpa gadget kepada Fadly dan Fara. Untuk Fadly mengingat tahun ajaran ini ia naik ke kelas 6, saya memintanya untuk lebih serius ke pelajaran. Sedangkan Fara, puasa gadget biar sama dengan abangnya😁

Alhamdulillah tanpa banyak paksaan, Fadly menuruti keinginan saya. Ya kan Fadly juga yang ingin masuk SMPN 9, SMP yang cukup favorit di sekitaran rumah. Apalagi tahun ini nilai hasil UN yang diterima di sekolah tersebut cukup tinggi. Mudah-mudahan hal ini memacu Fadly untuk lebih giat belajar. Jadi bhay sama PUBG, Free Fire dan Mobile Legend untuk waktu yang gak ditentukan. 



Trus liburan ini, apa donk yang mereka lakukan berdua. Selain jalan-jalan ke Purwakarta dan Cirebon, angpau yang diperoleh selama Lebaran dibelikan buku. Iya Fadly sudah ngidam buku Harry Potter jilid 2. Karena angpau Lebarannya cukup, ia pun membeli Harry Potter jilid 2, 3 dan 4. Mantul kan....


Kami pun menemani Fadly ke toko buku untuk membeli buku idamannya. Begitu memasuki Gramedia Matraman, ingatan saya menyeruak, teringat masa - masa sekolah, dimana uang jajan terbatas, datang ke Gramedia Matraman bagaikan surga. Penuh dengan buku - buku idaman. Rasanya ingin punya uang sekarung dan bisa memborong buku - buku yang terjejer manis di rak.


Back to 90', saat itu toko buku yang super duper lengkap hanya Gramedia Matraman dan  Gunung Agung Kwitang. Kalau mau beli buku tulis, perlengkapan sekolah, tas dan lainnya...mari menuju Gunung Agung Kwitang. Di sana semua serba lengkap. Tapi kalau kamu mau mencari serial terbaru Lupus, silakan menuju Gramedia Matraman, bahkan tak jarang bisa sekaligus menumpang baca buku di sana.



Siapa manteman di sini yang suka numpang baca buku di sana?*tunjuk tangan. Maklum ya, kala itu uang jajan gak banyak untuk beli buku, plus hiburan murah meriah tapi bikin hepi adalah bisa baca buku di sana. Hihi kesannya kok ya aji mumpung banget. Tapi ini gak saya aja kok, beberapa teman - teman saya ketika di SMA pun melakukan hal yang sama. Tapi buku yang kami baca bukan buku yang berada dalam plastik ya.

Biasanya hari Sabtu, sepupang sekolah, dengan menumpang bus yang ada, saya dan beberapa orang teman pergi ke Gramedia Matraman. Tujuan utama sih mencari buku - buku pelajaran atau buku penunjang pelajaran, seperti kamus atau peta. Sisanya kalau gak novel ya rak komik lah yqng kami tuju😁😂 dan siap - siap pulang malem karena keasikan baca, sampai lupa waktu. Kami tetap beli buku kok, tapi yang harganya ramah di kantong dan biasanya patungan 😂😂😂😂.



Gramedia Matraman kini cukup sepi, mungkin karena banyaknya Gramedia yang berada di mall seantero Jakarta, atau mulai memudarnya minat baca di kalangan generasi muda? Semoga sih enggak ya, seperti Fadly dan Fara yang tetap antusias ke toko buku, demi menuntaskan rasa ingin tahunya akan nasib Harry Potter.


Kalau teman - teman masih ada yang suka beli buku? Atau numpang baca buku di toko buku? 


© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall