22 November 2022

BISKUAT ACADEMY 2022 Hadir Untuk Mewujudkan Inner Strength Anak Indonesia







“Ibu, Bu Tiara tadi kasi tahu kalau aku kepilih jadi tim inti pramuka, dan latihannya tiap Rabu jam 13.00 sepulang sekolah. Trus latihan silat aku gimana ya bu? Kan kalau rabu aku ikut dua kelas, jadi cuma bisa  ikut satu kelas aja deh bu…gpp kan ya bu?” tanya Fara sepulang sekolah minggu lalu.

 

Memang semenjak Juli lalu, Fara ikut berlatih silat di GOR Ciracas seminggu 3x setiap senin, rabu dan jumat. Dan atas permintaan kakak pelatihnya, sudah sebulan ini setiap rabu Fara ikut berlatih di dua kelas berbeda, seni tunggal dan tanding. Kakak pelatih memang meminta Fara untuk ikut kelas tanding agar tendangannya lebih bertenaga dan gerakannya lebih bagus lagi.

 






Awalnya saya dan pak suami mendaftarkan Fara untuk mengikuti pencak silat dengan alasan pencak silat bisa menjadi salah satu jalur prestasi non akademik ketika memilih SMP Negeri nanti. 

 

Pengalaman kami dengan Fadly yang hanya mengandalkan nilai saat masuk SMP Negeri, benar – benar bikin deg-degan. Saat itu usia Fadly yang tergolong muda dan nilai akreditasi sekolahnya yang kecil, membuat Fadly kesulitan memilih sekolah impiannya. Berbekal pengalaman tersebut, saya dan pak suami mencoba menawarkan pencak silat sebagai salah satu jalur untuk masuk SMP Negeri nanti pada Fara.

 

Saya ingat dulu nenek dan kakak ibu saya melarang saya untuk menekuni dunia olahraga, khususnya pencak silat dan sepakbola. Mereka beranggapan kalau mengikuti kegiatan ini hanya membuang waktu saja dan membuat saya malas belajar.  Padahal setiap anak terlahir dengan beragam kekuatan dan potensi di dalam dirinya. Tidak hanya potensi akademik, potensi non akademik juga dapat dijadikan tolak ukur kesuksesan anak. Saya tidak ingin hal yang sama terulang pada Fadly dan Fara.

 

Ketika saya dan pak suami menjadi orang tua, kami berdua memberi kebebasan pada anak-anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya sesuai keinginan mereka. Prestasi akademik memang dapat membantu anak untuk meraih kesuksesannya di masa mendatang. Namun hal ini juga perlu didukung oleh inner strength (kekuatan baik) agar tercipta karakter anak yang kuat dan dapat membantunya di masa depan.

 

Saya percaya semua anak itu cerdas, dan memiliki kecerdasan yang berbeda. Tugas orang tua untuk menggali semua potensi yang ada dan mendukung perkembangannya. Lalu apa saja sih yang bisa kita lakukan untuk mendukung inner strength pada anak?

  • Mendukung kegiatan anak dan potensi yang dimilikinya, mengapresiasi kecerdasan dan karakternya. Anak perlu diajarkan untuk percaya diri tetapi tetap rendah hati. Anak dilatih untuk paham bahwa ia adalah makhluk social yang juga butuh bantuan orang lain.
  • Mengajarkan anak belajar dari kesalahan. Orang tua tidak harus selalu menuntut kesempurnaan dari anak. Kesalahan yang dilakukan anak merupakan bagian proses pembelajaran dari kesuksesannya. Sehingga anak semakin dapat mengembangkan potensinya.

 



Hal ini yang saya upayakan terus menerus pada Fara agar ia lebih percaya diri baik saat bersosialisasi dengan teman-temannya maupun saat tampil di kompetisi yang diikutinya.  Menurut wali kelasnya, Fara termasuk anak yang berani mengemukakan pendapat saat berdiskusi di kelas, baik hati dan senang menolong mengajarkan temannya saat mereka kesulitan mencerna materi pembelajaran di kelas. Sementara kakak pelatihnya mengatakan bahwa Fara termasuk anak perempuah yang tangguh, pantang menyerah dan berkemauan keras.

 

 


Itu cerita saya untuk menggali potensi dan inner strength pada Fara. Ternyata saya gak sendiri. Ada Biskuat yang juga percaya bahwa setiap anak memiliki kekuatan baik dari dalam yang penting untuk perkembangan masa depannya.  Sudah menjadi tugas orang tua untuk mendukung hal terbaik dalam diri anak di masa pertumbuhannya. Untuk itu Biskuat mengajak orang tua Indonesia untuk menciptakan #GenerasiTiger, yaitu anak-anak yang tidak hanya berprestasi tapi juga memiliki kekuatan baik dari dalam (inner strength) yang tercermin dari karakter positif anak, seperti pemberani, baik hati, tangguh dan percaya diri melalui Biskuat Academy 2022.

 


 

 Apa itu Biskuat Academy 2022

Biskuat Academy adalah serangkaian acara tahunan dari Biskuat untuk memberikan pembelajaran olahraga bagi anak Indonesia yang bertujuan mengembangkan tidak hanya kekuatan fisik tetapi juga kekuatan baik dari dalam untuk menciptakan #GenerasiTiger Indonesia

 


Loh memangnya ikut sepakbola akan memunculkan potensi dan inner strength pada anak? Maklum ya teman, sepakbola seringkali identik dengan kerusuhan, jadi banyak juga teman saya khususnya ibu-ibu yang melarang anaknya bermain bola setelah kerusuhan Kanjuruhan lalu.

 

Padahal dengan bermain bola, anak akan :

  1. Melatih kordinasi, keseimbangan, kemmapuan, kecepatan dan memberikan rangsangan pada system syarafnya. Sehingga anak akan menjadi tangguh dalam menghadapi berbagai situasi.
  2. Bermain bola juga mengajarkan anak berpikir cepat, kritis, dan mampu beradaptasi dalam situasi yang tengah dihadapi. 
  3. Membangun rasa percaya diri anak. 
  4. Belajar untuk menerima kekalahan, baik hati dan tidak egois terhadap orang lain.

 

 

Melalui Biskuat Academy 2022, anak Indonesia diharapkan bisa mengembangkan Kekuatan dari Dalam dan mencapai mimpinya. Mulai dari peningkatan keterampilan sepak bola dari pelatih berlisensi UEFA A sebagai persiapan untuk menjadi pemain bola masa depan, hingga bertemu pemain profesional dari Tim Nasional Sepak Bola Indonesia.


Peserta yang terpilih mengikuti Biskuat Academy 2022 nantinya berkesempatan mendapatkan pelatihan dengan kurikulum yang disusun oleh pelatih bersertifikasi UEFA yaitu Coach Timo Scheunemann, bahkan bimbingan langsung dari pemain Tim Nasional Indonesia.

 

Tidak hanya itu, peserta yang beruntung juga berkesempatan memenangkan tur ke stadion sepak bola di Eropa dan mendapatkan sertifikat yang sudah ditandatangani oleh Kemendikbud dan Kemenpora. Selain itu Biskuat juga mengadirkan Coach Aji sebagai Pelatih Inspirasional pada Biskuat Academy 2022.

 

Saat ini Biskuat Academy 2022 masih hadir dalam format Sekolah Bola Online dengan jumlah kelas yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Terdapat tujuh kelas yang dilaksanakan mulai dari 25 September  hingga  18 Desember 2022. Sementara Grand Final Sekolah Bola Online akan diselenggarakan pada 22 Januari 2023. Tidak ada batas usia namun kurikulum yang disediakan lebih cocok untuk 5-15 tahun (maksimal SMP).

 

Pasti ada manfaat dan kebaikan yang bisa dikembangkan anak melalui olahraga, khususnya sepak bola. Jadi rugi banget kalau gak ikutan Biskuat Academy 2022. Cara ikutannya juga mudah kok, cukup dengan membeli produknya sesuai ketentuan yang berlaku, kemudian daftar dengan cara kirim pesan via Whatsapp Official Biskuat 0812 1222 5919.dan Ikuti instruksi Chatbot Biskuat di Whatsapp, kemudian Ikuti Biskuat Academy 2022 dan menangkan hadiahnya.

 

 

 

 

Semoga saja tahun depan giliran olahraga lain yang dilirik Biskuat, Pencak Silat misalnya. Sehingga makin banyak anak Indonesia yang memaksimalkan inner strengthnya dan menjadi generasi Tiger Indonesia.






 

 




 

04 October 2022

Upaya Pemerintah Membantu OYPMK Terhindar dari Kemiskinan

Foto dari lifepack.id



Kusta. Penyakit ini sempat ramai dibicarakan di lingkungan tempat tinggal saya puluhan tahun lalu. Pasalnya salah satu tetangga kami mengidap penyakit kusta tanpa ia sadari. Sebut saja Mpok M, yang usianya beberapa tahun diatas saya, mengidap kusta diusia remaja.

 

Kala itu stigma penyakit kusta begitu melekat di masyarakat, dan Mpok M pun menerima imbasnya. Ia dilarang untuk melanjutkan pendidikan, sempat dilarang keluar rumah dan kami, anak-anak yang berada di sekelilingnya dilarang untuk bermain bersama. Mpok M akhirnya terisolasi sendiri.

 

Kusta di Indonesia meskipun dalam posisi stagnan di sepuluh tahun terakhir, namun hingga saat ini masih ada 18.000 kasus kusta yang terdaftar di Kemenkes, dan tersebar di 7.548 desa/kelurahan/kampung yang ada di 1.975 Puskesmas yang tersebar di 341 kabupaten atau kota. Di 2021 lalu, tercatat 6 provinsi dan 101 kabupaten atau kota yang belum mencapai eliminasi kusta.

 

Keterlambatan penemuan dan penganan kusta menjadikan penyakit ini semakin bertambah jumlah kasusnya. Ketidaktahuan masyakarat mengenai kusta dan stigma yang mengiringinya membuat orang dengan gejala kusta untuk takut memeriksakan dirinya. Jadi gak heran ya kalau kasus penularan dan kasus disabilitas kusta menjadi tinggi.

Foto dari kompas health

 

 

 

Selain itu stigma yang beredar di masyarakat juga semakin menambah permasalahan baik secara psikologis, ekonomi maupun social. Seperti Mpok M tetangga saya tadi yang tidak diperkenankan sekolah atau keluar bermain bersama kami, OYPMK atau Orang Yang Pernah Mengalami Kusta, banyak yang identik dengan ketidakmampuan dan terjebak dalam kemiskinan.

 

Pemerintah harus melakukan berbagai upaya agar OYPMK  dapat berdaya bagi diri dan lingkungannya. Pada taggal 28 September 2022 lalu, Ruang Publik KBR dan NLR Indonesia menghadirkan talkshow dengan topik “Kusta dan Disabilitas Identik dengan Kemiskinan, Benarkah?”.

 

Dalam talkshow tersebut menghadirkan narasumber :

  • Sunarman Sukamto, Amd, Tenaga Ahli Kedeputian V, Kantor Staff Presiden (KSP)
  • Dwi Rahayuningsih, Perencana Ahli Muda, Direktorat Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian PP/Bappenas.

 


Dalam kesempatan ini kedua narasumber menjelaskan bahwa Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya agar OYPMK dapat berdaya guna ditengah masyarakat dengan cara kolaborasi dengan berbagai pihak terkait, baik itu dengan pemerintah daerah, Kementerian,  lembaga negara, pihak asing maupun OYPMK sendiri karena kusta ini tidak hanya berkaitan dengan isu kesehatan melainkan juga isu multidimensi.

 

Selain itu Pak Maman menjelaskan bahwa isu disabilitas dilekatkan dengan isu HAM sesuai pengarahan dari Bapak Presiden. Sehingga OYPMK tidak mendapat perlakuan diskriminasi, mendapat kesempatan yang sama dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Dalam hal ini edukasi dan sosialisasi mengenai kusta kepada masyarakat harus lebih intens  dilakukan. Sehingga masyarakat mengetahui bahwa kusta bukan penyakit kutukan dan sudah bisa diobati.

 

Selain itu Pak Maman juga mengatakan pemerintah memberikan perhatian khusus kepada OYPMK dan penyandang disabilitas agar mereka dapat hidup normal ditengah masyarakat dengan cara memberikan pelatihan dan advokasi bagi mereka.

 

Sementara itu Ibu Dwi Rahayuningsih mengatakan bahwa OYPMK dapat dikategorikan sebagai penyandang disabilitas fisik menurut Undang – Undang nomor 8 tahun 2016 yang membagi ragam disabilitas terbagi atas fisik, intelektual, mental, dan /atau sensorik.  Untuk itu Pemerintah mengadakan berbagai program untuk penyandang disabilitas dan OYPMK antara lain melalui pemberian sembako, peminjaman modal usaha, bantuan rehabilitasi dan lainnya. Diharapkan dengan adanya program bantuan ini, disabilitas dan OYPMK dapat kesempatan dan hidup dengan layak serta berdayaguna.

 

Jadi jangan abaikan mereka ya, dan semangat untuk terus berkarya ya teman – teman disabilitas dan OYPMK !

 


 

 

 

 

© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall