19 September 2018

Serba Serbi Asuransi



Beberapa hari ini, saya lagi asyik belajar literasi keuangan. Hihi walaupun masih belum fasih dan ngelotok, tapi gpp ya sedikit kan nanti lama-lama jadi bukit 😏 * yakalik


Kalau kemarin belajar urusan keuangan rumah tangga, sekarang giliran saya belajar mengenai apa itu asuransi. Biar gak horor dengar kata asuransi dan jadi males cari tahu. Mungkin gara-gara beberapa agent asuransi yang salah memberikan edukasi ke calon kliennya, jadi salah persepsi deh tentang asuransi.

Apa itu Asuransi?

Asuransi merupakan tindakan atau perlindungan finansial dan proteksi diri yang ditujukan bagi jiwa, properti, kesehatan dan lainnya. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan seperti sakit keras, kematian, kehilangan  ataupun kerusakan, kita akan mendapatkan penggantian.

Dalam acara workshop bersama Prudential kemarin yang berlangsung di Prudential Center, Jakarta, peserta yang hadir diajak sharing mengenai Unit Link serta manfaatnya.

Di sesi pertama, yang dibawakan oleh Himawan Purnama, AVP Head of Product Development of Prudential. Dalam presentasinya, mas Himawan bilang kalau asuransi itu merupakan perjanjian dua pihak , dimana pihak yang satu berkewajiban untuk membayar iuran (premi) dan pihak lainnya  berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran, apabila terjadi sesuatu di kemudian hari yang menimpa pihak pertama, baik itu diri maupun barang miliknya, sesuai dengan perjanjian yang dibuat.

Dalam konsep dasar asuransi, perusahaan bertindak sebagai pengelola atau si penanggung. Sedangkan nasabah membayar premi pada perusahaan sesuai dengan jumlah yang disepakati. Apabila suatu hari nasabah mengalami kondisi sesuai dengan perjanjian, perusahaan akan memberikan sejumlah manfaat kepada nasabah.

Asuransi sendiri terdiri dari asuransi jiwa dan asuransi umum. Nah asuransi umum ini ada banyak loh ;
  • Asuransi property
  • Asuransi kendaraan
  • Asuransi perjalanan
  • Asuransi engineering
  • Asuransi rangka kapal
  • Asuransi Cargo
  • Asuransi Kecelakaan
  • Asuransi Kemalingan, dll


Belakangan ini sedang booming asuransi syariah, di mana asuransi syariah berprinsip berbagi resiko bersama, tolong menolong, dana dikelola secara Tabarru, diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah dan jenis investasinya berbasis syariah.

Sedangkan asuransi konvensional berprinsip risk transfer, akad jual-beli, perusahaan sebagai penanggung resiko, dan keuntungan menjadi milik perusahaan.  Diawasi oleh internal manajemen perusahaan dan investasi bisa berbasis syariah dan bukan berbasis syariah.






Mengenal Asuransi Jiwa

Asuransi Jiwa terbagi dua, Tradisional dan Unit Link. Pada asuransi jiwa berjangka, mendapat manfaat meninggal dengan periode jangka pendek. Untuk asuransi jiwa seumur hidup, memberikan manfaat meninggal dengan periode jangka panjang (seumur hidup). Dan asuransi jiwa dwiguna memberikan manfaat meninggal dan tabungan.


Point terakhir menarik ya, apa sih asuransi jiwa dwiguna itu? Jadi nasabah dipaksa menabung selama periode yang sudah ditetapkan. Waktunya bisa saja 10 atau 20 tahun, asuransi yang ada dimasukkan ke investasi dan proteksi. Jadi melindungi jiwa sambil menabung.

Lalu unit link itu apa? Waiya, ini sering kali begitu mendengar unit link, yang terbayang adalah sales yang akan menghantui kitaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ enggak deh πŸ˜˜πŸ™ˆ

Asuransi unit link berbeda dari asuransi jiwa lainnya. Asuransi  unit link berfokus pada asuransi jiwanya, proteksinya, namun tidak melupakan investasinya.


Di asuransi jiwa unit link, nasabah membayarkan uang  (premi) kepada perusahaan sebagai pengelola. Uang atau premi tersebut dikumpulkan dalam bentuk unit, dan nantinya digunakan untuk pembayaran proteksi nasabah apabila membutuhkannya.

Naini yang membuat asuransi jiwa unit link berbeda dari asuransi lainnya. Jika asuransi lainnya hanya bermanfaat ketika kita tiada melalui ahli waris, di unitlink nasabahnya pasti dikasih lebih,  kita bisa menikmati hasil kerja keras dan investasi yang ada. Asal gak salah pilih investasi loh yaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Semoga harapan saya  semakin banyak masyarakat yang melek literasi, terkabul.

#PastiDikasihLebih












13 September 2018

Belajar Mengelola Keuangan Rumah Tangga bersama #IbuBerbagiBijak


#ibuberbagibijak


Tengah bulan gini, apa yang bikin pusing kepala? Yes, keuangan rumah tangga. Tanggal gajian masih jauh, tapi uang di tangan makin menipis. Itu kalau pegawai yang setiap bulan pasti terima gaji. Bagaimana dengan pekerja paruh waktu yang gajinya gak pasti? *Merem, tutup muka*



Zaman pak suami masih sebagai pekerja kantoran, gaji yang saya terima, saya kelompokkan ke dalam berbagai pos alokasi pengeluaran. Dan post yang selalu tekor adalah pengeluaran lain-lain. Niat hati dibatasi, tetap saja kalau sudah ke mall, lapar mata lihat sana sini. Terlebih jika ke mall, suasana hati lagi kesal, belanja adalah obatnya. Terus udahannya sampai rumah baru nyeselπŸ˜’πŸ˜­πŸ˜‚.

 

Jadi gak salah donk, sebagai perempuan, sebagai seorang ibu, kita pun mesti belajar literasi keuangan. Kan katanya ibu adalah menteri keuangan, segala keputusan yang berkaitan dengan keuangan rumah tangga diatur, dikelola dan diawasi oleh ibu.


Dalam acara workshop #IbuBerbagiBijak yang diadakan VISA bertempat di RPTRA Kopi Gandaria, Pasar Rebo, Jakarta Timur, bapak Riko Abdurrahman, Presiden Direktur PT. Visa World Indonesia mengatakan bahwa hasil survey OJK di tahun 2016 silam menunjukkan bahwa tingkat literasi  dan inklusi keuangan pada perempuan atau ibu sangat rendah. Hanya berkisar di 25,5% , sedangkan laki -laki sebesar 66,2%.


OJK  sangat mengapresiasi  dan mendukung program Ibu Berbagi Bijak yang diselenggarakan tiap tahun oleh Visa. Harapannya sesudah mengkuti  program ini, perempuan Indonesia memiliki wawasan dan pengetahuan mengenai keterampilan dalam pengelolaan keuangan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.


Selain pak Riko, hadir mbak Prita Hapsari Ghozie, Finansial Educator, ECO & Chief Financial Planner ZAP Finance. Saya sering nih dengerin sesi siarannya mbak Prita di sebuah radio tiap selasa, tapi ini kali perdananya saya mendengar langsung penjelasan beliau.


Mbak Prita bilang ada 3 hal yang harus dilakukan agar keuangan aman...

1. Finansial Check Up

Hayo cek ricek lagi, apakah keuangan kita bermasalah. Apakah ada cicilan atau hutang yang wajib dibayar? Memiliki cicilan atau hutang sah saja selama tidak melebihi 30% dari pemasukan kita. Lalu sebaiknya kita tidak menggunakan kartu kredit untuk belanja kebutuhan harian. Sebaiknya cicilan atau hutang dibuat sebagai modal usaha (pinjaman produktif) sehingga keuntungannya nanti dapat digunakan untuk membayar cicilannya.

2. Kelola Arus Kas dengan Bijak

Masih inget pelajaran akutansi zaman sekolah, di mana arus kas ialah aliran masuk dan keluar uang, dengan kata lain pemasukan dan pengeluaran. Pemasukan apa saja? Gaji, bonus, keuntungan usaha merupakan pemasukan. Dan pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran.

Saat acara mbak Prita bagi-bagi kertas, kayak mau ujian ya πŸ˜‚. Di kertas tersebut dijelaskan pemasukan yang ada digunakan untuk apa saja, dan berapa persentasenya.


Sedekah, hutang, biaya hidup, gaya hidup, dana darurat, dan tabungan/investasi, merupakan alokasi pengeluaran yang perlu diketahui jumlahnya agar tidak melenceng dari pemasukan yang ada. Mbak Prita juga bilang, gak peduli berapapun penghasilan kita, yang penting bisa mengelolanya.  Kan gak mau besar pasak daripada tiang, yekan.


3. Merencanakan keuangan dengan baik

Pengeluaran bulanan  sudah kita alokasikan sesuai dengan pemasukan yang ada, tetapi keuangan tetap saja tidak balance, tambal sulam sana sini. Mbak Prita menyarankan dan mengajak ibu-ibu yang hadir untuk mencari penghasilan sampingan, membantu keuangan keluarga. Kira - kira apa yang bisa kita kerjakan?

3 cara menambah penghasilan rumah tangga

  • Bekerja secara aktif
  • Sebagai investor
  • Menjadi womanpreneur


Mbak Prita bilang, cari tahu apa hobi dan kegemaran kita, lalu kembangkan menjadi bisnis. Hal yang kita sukai, ketika dikerjakan malah menjadi fun.


Kenalan dengan Aditya Lugina dan Gammara

Narasumber berikutnya adalah seorang womanpreneur yang dibilang sukses. Memulai karirnya di 2010 silam dengan membuat  tas dan sepatu dari bahan kulit, Aditya Lugina mengubah bisnisnya, Gammara menjadi CV. Gammara Jaya Mondial, menggunakan bahan kulit berkualitas baik. Hingga saat ini Gammara merupakan vendor di Jepang, Perancis, Belanda, Uni Emirat Arab dan memiliki distributor di Tangerang.


Menurut mbak Lugina, ada 3 jurus jitu untuk membangun bisnis, antara lain...

1. Tentukan Goals atau sasaran/tujuan

Tentukan ide produk, bahan baku, perencanaan keuangan, modal, aset, dan omset. Lalu pikirkan bagaimana pemasaran, target pasar, promosi dan harga jualnya. Hal ini biar apa sodara-sodara? Biar  usaha yang kamu lakukan dapat survive, gak hangat-hangat tahi ayam aja πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

2. Afirmasi

Ini kelihatannya sepele, tapi berdampak membentuk pola pikir yang positif. Kita jadi yakin akan kemampuan diri, gak mudah menyerah, berani ambil resiko, mandiri, kreatif dan inovatif.

3. Visualisasi

Sah saja membayangkan  kesuksesan kita meraih impian, sehingga kita harus menangkap peluang di semaksimal mungkin. Buat networking seluas mungkin di manapun, lalu lakukan yang kita sukai, hal lainnya insyaAllah akan mengikuti.


Mbak Lugina juga kasih tahu, kalau kita juga tetap harus melakukan management pada usaha kita. Jangan mentang-mentang bisnis kita sendiri, kita mengabaikan hal berikut ini :
1. Menggaji diri sendiri
2. Menabung untuk investasi dan pengembangan bisnis kita.
3. Disiplin dalam membuat anggaran belanja. Dahulukan yang penting.
4. Dan kelola cashflow  dengan bijak.

Acara hari itu ditutup dengan sesi tanya jawab dan sukses rame rebutan mau nanya plus sesi games yang seru karena pertanyaannya bikin ngikik. Iya, mbak Prita cari tahu, siapa diantara peserta workshop yang hadir masih menyimpan struk/bon belanjaan yang paling tua umurnya. Eh ternyata ada loh, ibu PKK yang masih menyimpan bon belanjaannya di tahun 2016πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.


#ibuberbagibijak


Huhu saya jadi pengen rikues sama mbak Prita dan Visa, next workshop boleh ya bahasannya mengenai mengatur keuangan ala pekerja paruh waktu. Teman-teman setuju gak?

© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall