10 July 2019

Nostalgia di Gramedia Matraman, Asiknya Numpang Membaca Buku





Selama liburan sekolah ini, saya dan pak suami kembali memberlakukan masa-masa tanpa gadget kepada Fadly dan Fara. Untuk Fadly mengingat tahun ajaran ini ia naik ke kelas 6, saya memintanya untuk lebih serius ke pelajaran. Sedangkan Fara, puasa gadget biar sama dengan abangnya😁

Alhamdulillah tanpa banyak paksaan, Fadly menuruti keinginan saya. Ya kan Fadly juga yang ingin masuk SMPN 9, SMP yang cukup favorit di sekitaran rumah. Apalagi tahun ini nilai hasil UN yang diterima di sekolah tersebut cukup tinggi. Mudah-mudahan hal ini memacu Fadly untuk lebih giat belajar. Jadi bhay sama PUBG, Free Fire dan Mobile Legend untuk waktu yang gak ditentukan. 



Trus liburan ini, apa donk yang mereka lakukan berdua. Selain jalan-jalan ke Purwakarta dan Cirebon, angpau yang diperoleh selama Lebaran dibelikan buku. Iya Fadly sudah ngidam buku Harry Potter jilid 2. Karena angpau Lebarannya cukup, ia pun membeli Harry Potter jilid 2, 3 dan 4. Mantul kan....


Kami pun menemani Fadly ke toko buku untuk membeli buku idamannya. Begitu memasuki Gramedia Matraman, ingatan saya menyeruak, teringat masa - masa sekolah, dimana uang jajan terbatas, datang ke Gramedia Matraman bagaikan surga. Penuh dengan buku - buku idaman. Rasanya ingin punya uang sekarung dan bisa memborong buku - buku yang terjejer manis di rak.


Back to 90', saat itu toko buku yang super duper lengkap hanya Gramedia Matraman dan  Gunung Agung Kwitang. Kalau mau beli buku tulis, perlengkapan sekolah, tas dan lainnya...mari menuju Gunung Agung Kwitang. Di sana semua serba lengkap. Tapi kalau kamu mau mencari serial terbaru Lupus, silakan menuju Gramedia Matraman, bahkan tak jarang bisa sekaligus menumpang baca buku di sana.



Siapa manteman di sini yang suka numpang baca buku di sana?*tunjuk tangan. Maklum ya, kala itu uang jajan gak banyak untuk beli buku, plus hiburan murah meriah tapi bikin hepi adalah bisa baca buku di sana. Hihi kesannya kok ya aji mumpung banget. Tapi ini gak saya aja kok, beberapa teman - teman saya ketika di SMA pun melakukan hal yang sama. Tapi buku yang kami baca bukan buku yang berada dalam plastik ya.

Biasanya hari Sabtu, sepupang sekolah, dengan menumpang bus yang ada, saya dan beberapa orang teman pergi ke Gramedia Matraman. Tujuan utama sih mencari buku - buku pelajaran atau buku penunjang pelajaran, seperti kamus atau peta. Sisanya kalau gak novel ya rak komik lah yqng kami tuju😁😂 dan siap - siap pulang malem karena keasikan baca, sampai lupa waktu. Kami tetap beli buku kok, tapi yang harganya ramah di kantong dan biasanya patungan 😂😂😂😂.



Gramedia Matraman kini cukup sepi, mungkin karena banyaknya Gramedia yang berada di mall seantero Jakarta, atau mulai memudarnya minat baca di kalangan generasi muda? Semoga sih enggak ya, seperti Fadly dan Fara yang tetap antusias ke toko buku, demi menuntaskan rasa ingin tahunya akan nasib Harry Potter.


Kalau teman - teman masih ada yang suka beli buku? Atau numpang baca buku di toko buku? 


09 July 2019

Pilih Mana, Film Kolosal atau Serial Kolosal?











Film yang pertama kali saya dan pak suami tonton saat pacaran dulu merupakan film drama komedi romantic, Just Like Heaven (2005).  Dibintangi oleh Mark Ruffalo dan Reese Witherspoon, film ini menceritakan bagaimana rasa penasarannya David  Abbort ketika mengetahui bahwa apartemen baru nya dihuni oleh hantu cantik yang kerap hadir jika ia menaruh barang di tempat yang tak biasa. Sampai akhirnya David tahu kalau si hantu cantik tersebut adalah pemilik lama apartemen yang baru ia tinggali ini. Keberadaan si pemilik ini mengagetkan David, dan David pun berusaha mencari dan bertemu dengan si pemilik. Kelanjutannya teman-teman nonton sendiri ya, biar gak penasaran gitu.



Dari satu film ke film berikutnya, saya dan pak suami tak pernah melewatkan film yang kami anggap sesuai dengan selera kami. Hingga beberapa bulan lalu, pak suami memperkenalkan saya dengan Game of Thrones, sebuah serial kolosan yang membahas mengenai perebuatan kekuasaan yang tiada henti.  Tahu sendiri kan kalau film-film kolosal itu proses pembuatannya melibatkan orang dengan jumlah yang banyak, plus membutuhkan biaya produksi yang gak sedikit karena banyaknya pemain yang terlibat.  Tetapi biasanya film- film kolosal juga identik dengan sejarah atau zaman kuno yang menampilkan adegan peperangan besar – besaran, yah walaupun beberapa bertema fiksi atau adaptasi dari novel fiksi.




Teman-teman tentu tahu Gladiator (2000), Troy(2004),  300 (2006),  The Last Samurai (2003),  atau Pearl Harbour (2001), kan? Sayangnya dari beberapa film di atas, hanya The Last Samurai yang saya tonton, entah mengapa saya lebih memilih cerita dengan latar belakang Kerajaan di Jepang dibanding Romawi. Dan saya lebih memilih serial kolosal ketimbang film kolosal, gregetnya lebih terasa, baik dari segi cerita, adegan maupun special effectnya. Mantul deh.  Tapi berbeda dengan film eh serial kolosal lainnya, Game of Thrones menawarkan sesuatu yang unik, seru dan bikin gemes tentunya, gak kalah seru dari Drama Korea.



Game Of Thrones

ketiga tokoh kunci di musim ke delapan

Kalau ada yang bertanya kenapa saya gak suka nonton Drakor alias drama korea? Mungkin karena saya gak bisa bedain pemain satu dengan lainnya. Hahaha serius, buat saya semua pemain prianya sama saja  keliatannya. Jadi deh saya bingung sendiri menentukan siapa dan apa peran mereka. Ditambah durasi drama korea yang lama sering kali bikin saya gak tahan bin sabar nontonnya. Salah saya juga sih, pertama kali kenalan dengan drama korea eh nontonnya yang sedih-sedih. Alhasil sepanjang 30 episode nangis Bombay dan kapok hahaha. Padahal banyak juga kok drama korea sekarang yang genrenya komedi, iya kan manteman *lirik pecinta drakor.



Gak cuma drakor kok, saya pernah nonton serial Philipinna, ya kurang lebih sama juga, nyaris 25 episode, beda tipis sama tersanjung. Walhasil bosen dan ogah ngelanjutinnya. Tapi berbeda dengan Game Of Thrones. Serial kolosal ini sejak awal sudah saya nyinyirin karena ya itu tadi, kolosal – pemainnya banyak – susah dihafal – durasinya panjang – plus cuma cerita tentang perang doank, malesin kan. Eeee ternyata saya salah donk. Justru saya ketagihan dengan serial ini, dan nyaris tiap hari duduk manis menontonnya.



Serial kolosan ini ditayangkan sejak 2011 silam di station TV HBO, disutradai oleh David Benioff dan D.B Weiss. Sejak awal HBO menyuguhkan setidaknya 10 episode per musim. Namun di musim ketujuh hanya menampilkan 8  episode dan 6 episode di musim ke delapan. Hihihi kalau dihitung-hitung ya sama saja kan dengan durasi nonton drama korea.


Serusuh ini ngapalin nama dan karakter tokohnya

Serial Game of Throne ini diambil dari novel yang ditulis oleh George R.R Martin di tahun 1996. Menceritakan perebutan tahta di sebuah kerjaan yang berada di Westeros dan Essos (nama sebuah benua di buku tersebut), Iron Throne of Seven Kingdoms. Cerita yang ada gak semuanya membahas  tentang perang sih, tapi banyak juga bahasan tentang keluarga beserta intrik politik yang ada di dalamnya.  Persis kaya Indonesia sebelum pemilu kemarin deh, panas dan berdarah- darah *eh



Saran saya sih kalau teman- teman ada yang penasaran dan pengen nonton serial ini, plis jangan ajak adik atau anaknya yang berusia di bawah 17 tahun ya, banyak adegan kekerasan yang bikin gore dan horror plus ada beberapa adegan seksualnya. Pokoknya jangan nonton sambil makan deh, dijamin gak nikmat hahahahha


Untuk sebagian orang yang sudah nonton mengakui kalau Game of Throne ini konfliknya cukup berat  dan berlapis. Iya sih, buat saya sendiri, dengan banyaknya klan (keluarga) yang mesti dihafal dengan anggota keluarga yang cukup bikin masalah dan saling berkaitan, membuat saya mesti fokus saat menonton.  Jadi buat manteman yang gak suka dengan film yang banyak mikir, mungkin ini gak termasuk serial yang asik untuk ditonton.

Bendera klan besar


Gimana? Teman-teman ada yang belum nonton dan penasaran mau nonton? Sila cari di website nonton gratisan yaa….



08 July 2019

Resolusi di 2019, belajar mengenal sosial media lebih dekat






Hai hallo....

Sudah memasuki pertengahan tahun, resolusi apa yang sudah teman-teman capai? Kalau saya, baru dua yang alhamdulillah tercapai. Selain kemarin bisa liburan singkat berempat ke luar kota, ada satu barang yang saya inginkan alhamdulillah terwujud.


Namun masih banyak resolusi yang belum mendekati keinginan. Contohnya saja, saya ingin menambah keahlian di dunia sosial media. Terlebih melihat belakangan sosial media semakin marak. Rasanya tak afdol jika tidak memiliki akun di sosial media, apapun itu. Bahkan banyak perusahaan, selebriti yang tak mau ketinggalan untuk memiliki akun.



Memang apa sih manfaatnya memiliki sosial media? Dari beberapa artikel yang saya baca, mempunyai sosial media berarti...
1. Sebagai tempat bersosialisasi. Teman zaman SMP yang tinggal di luar negeri atau di luar kota, masih bisa disapa di sosial medianya. Gak butuh ongkos, tiket pesawat apalagi pulsa, yekan..
2. Mempertemukan mantan eh teman lama, atau kalau di saya, mempertemukan sepupu keluarga besar dari Bapak di sebuah grup Facebook. 
3. Sebagai pengganti diary. Hayooo siapa yang suka curhat di sosial media *tunjuktangan
4. Gak hanya menemukan teman lama, sosial media juga menemukan teman baru, klien baru, networking baru bahwa jodoh baru *eh. Yang terakhir ini beneran loh, saya termasuk yang ketemu jodoh via sosial media 🙈
5. Memberikan informasi terupdate, hiburan, hobi dan gak jarang bahkan banyak yang meminta bantuan via sosial media. Ingat koin untuk Bilqis atau info seputaran orang hilang kan.
6. Sosial media juga bisa menghasilkan uang. Kalau ini gak bisa dipungkiri, zaman now sosial media menjadi lahan pekerjaan yang cukup menghasilkan.



Nah point terakhir ini lah yang membuat saya ingin menambah skill agar mampu memonetisasi akun sosial media. Apalagi sejak beberapa bulan ini, saya bekerja paruh waktu sebagai admin di 3 akun sosial media milik sebuah perusahaan dan restaurant. Selain ingin bisa membuat caption dan foto yang menarik, saya juga tertarik untuk belajar membuat dan menganalisa strategi sosial media marketing.


Keahlian tersebut nantinya berguna sebagai nilai tambah saat mengelola ketiga akun yang saya pegang dan siapa tahu saja bisa memperoleh pekerjaan berikutnya.  So far, karena otodidak, saya masih meraba-raba untuk membaca sebuah report (twitter analytic, google analytic, facebook insight,dll)



Selain hal diatas yang berhubungan dengan pekerjaan, saya pun ingin semakin gape dalam hal masak - memasak dan membuat kue. Urusan perut anak-anak dan pak suami gak boleh ketinggalan diupdate.


Jadi ingat almarhumah nenek yang sempat memaksakan saya untuk mengenal bumbu dapur dan cara menggunakannya. Beliau sempat berpesan kalau anak perempuan wajib bisa memasak. Mana tau satu saat skill ini kita butuhkan sebagai penopang pendapatan keluarga, seperti yang nenek saya lakukan.


Nah begitu deh salah satu resolusi saya di tahun ini. Doakan semoga berjalan dengan lancar ya....


© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall