05 December 2017

Manfaat Dana Desa Pada Kampoeng Mataraman, Sebagai Salah Satu Upaya Percepatan Pembangunan Desa


Presiden Joko Widodo melalui program kerjanya, Nawa Cita, pada butir ke 3 berjanji akan Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Oleh sebab itu pemberdayaan masyarakat desa menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Jokowi – JK. Weekend lalu, saya dan teman - teman blogger berkesempatan mengunjungi sebuah desa yang berinisiatif mengelola potensinya sehingga menjadi salah satu desa wisata. Kunjungan kali ini selain karena lokasinya yang unik dan keren, saya dan teman - teman pun berkesempatan tatap muka secara langsung dengan bapak Eko Putro Sandjojo, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Menteri Desa PDTT). Saat ini beliau tengah berupaya keras untuk mewujudkan program kerja Presiden Jokowi, agar pemerataan manfaat dana desa dapat digunakan untuk kesejahteraan masyarakat desa.


Memasuki 3 tahunnya diberlakukan Undang - Undang Desa yang bertujuan untuk pemberdayaan desa, memberikan banyak kesempatan bagi desa untuk mengembangkan potensi jati dirinya dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Termasuk keputusan mengembangkan ekonomi desa sendiri. 


Kampoeng Mataraman

Salah satu bukti nyata manfaat dana desa bisa dilihat pada Kampoeng Mataraman, sebuah desa yang menjadi desa wisata dan kuliner, berlokasi di Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Yogyakarta, yang menjadi tempat kegiatan Rembug Desa Nasional 2017, pada 26 - 27 November 2017 lalu. 


Kampoeng Mataraman merupakan sebuah desa wisata yang terbentuk atas swadaya masyarakat Desa Panggungharjo yang memanfaatkan sebagian tanah pekarangannya untuk menjadi objek wisata berbasis Budaya Desa Mataram Yogyakarta.  Berada di lokasi seluas 6ha, Kampoeng Mataraman diharapkan dapat meningkatkan perekeonomian desa dengan cara memberdayakan penduduk setempat.


Ketika pertama kali tiba di Kampoeng Mataraman, saya mendapati suasana kampung tempo dulu, dengan 2 rumah Joglo, Pawon, dan hamparan sawah, serasa menghadirkan kembali era Kerajaan Mataram. Dengan desain kayu dan bambu yang mendominasi, ditambah jembatan bambu di atas danau kecil, membuat suasana syahdu nan romantis.

Memasuki lorong menuju Kampoeng Mataraman





Suasana Kampoeng Mataraman di malam hari


Berkunjung ke Kampoeng Mataraman tidak usah takut kelaparan, selain sebagai tempat wisata, Kampoeng Mataraman juga sebagai pusat kuliner bernuasa pedesaan. Mulai dari menu makanan, cara pengolahan yang masih tradisional, suasana alam sekitar, mencirikan kebudayaan tempo dulu. Makanan pun bisa kita nikmati duduk lesehan di atas tikar, di bangku panjang yang tersedia atau di meja ala warung makan, bebas saja. 

Serasa di rumah beneran

Menu yang dihadirkan merupakan menu masakan tradisional, seperti sayur lodeh, oseng genjer, mangut lele, wader goreng, gereh (ikan asin) apem, tempe goreng garit. Sedangkan untuk minuman tersedia es dawet, wedang uwuh, wedang jahe, wedang sereh, kopi gula jawa dan lainnya. Semua makanan dipersiapkan di dapur tradisional yang masih menggunakan kayu dan anglo sebagai bahan bakar untuk memasak. Dan tanpa menggunakan MSG.


Lalu kegiatan apa saja yang bisa kita lakukan di sana? Kita bisa mencoba ikut membajak sawah, naik sepeda onthel dan mencoba beragam permainan tradisional yang ada di sana, seperti engrang, panah - panahan atau ketapel. Lalu ada juga workshop Kriya Desa  yang bisa kita ikuti, seperti tenun lurik, dan wayang tanpa pola. Tidak hanya itu, kita pun bisa menyewa pakaian tradisional Jawa dengan harga yang cukup terjangkau. Seru kan....

Jembatan kayu yang berada di Kampoeng Mataraman


Rembug Desa Nasional 2017

Acara Rembug Desa Nasional yang berlangsung pada 26 - 27 November 2017 lalu, diikuti oleh sekurangnya 4 ribu kepala daerah dari berbagai daerah di nusantara. Perhelatan akbar ini juga dihadiri Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Bapak Eko Putro Sandjojo yang dalam kesempatan tersebut meresmikan BUMDES Mall, e-commerce atau marketplace sebagai pusat penjualan produk unggulan kawasan pedesaan.


Acara Rembug Desa Nasional dikemas dalam bentuk seminar dan talkshow dengan menghadirkan beberapa pembicara, antara lain Rhenald Kasali, Pendiri Rumah Perubahan, Aviliani, Konsultan Kementerian PDTT, Fitria Ariani, dari tim percepatan Kementerian Pariwisata, pakar sosiologi pedesaan dan Bandung Kreatif Forum yang turut serta memaparkan sektor industri kreatif desa.

Tenda yang dibangun di atas tanah persawahan untuk acara Rembug Desa Nasional


Rembug Desa Nasional menghasilkan Resolusi Piagam Panggungharjo, dimana terdapat 7 butir kesepakatan untuk percepatan pembangunan desa. Turut hadir bapak Wahyudi Anggorohadi, Kepala Desa Panggungharjo yang bangga dan bersenang hati karena desanya dijadikan tempat perhelatan Rembug Desa tahun ini. Beliau mengatakan, Rembug Desa Nasional sebagai ajang konsolidasi dalam meneguhkan kembali semangat membangun kawasan pedesaan. Konsolidasi ini juga sebagai pesan positif kepada masyarakata desa, bahwa desa yang ada selama ini bukan seperti bayangan mereka, tertinggal dibelakang. "Desa sejatinya harus mampu membangun kedaulatannya", ujar Wahyudi. Kesejahteraan desa berada pada air bersih, udara bersih dan pangan sehat. Ketiga faktor ini dapat menentukan arah masa depan sebuah bangsa.


Penyerahan Piagam Panggungharjo oleh Kades Panggungharjo kepada bapak Kemendesa

Kirab yang diikuti oleh mahasiswa, pelajar dan perangkat desa



Desa Panggungharjo sendiri sukses mengelola manfaat dana desa dan menaikkan taraf perekeonomian warga desanya melalui banyak hal. Salah satunya dengan cara mengumpulkan sampah yang kemudian diolah kembali menjadi bahan yang berguna. Desa yang juga merupakan contoh desa teladan ini, sukses menjadikan minyak jelantah sebagai BBM bagi mesin - mesin di pabrik besar. Minyak jelantah yang tidak boleh digunakan lagi karena membahayakan kesehatan, diolah kembali menjadi solar, bahan bakar bagi mesin di pabrik besar.

Atau jika kita berjalan - jalan ke dusun Pandes, salah satu kawasan yang berada di Desa Panggungharjo, kita akan menemui komunitas kampung dolanan, sebuah pusat kegiatan pembuatan dolanan anak - anak zaman dulu, seperti kitiran, manukan, angkrek wayang kertas,  dan othok - othok. Dusun Pandes telah menjadi ikon industri mainan tradisional tempo dulu.


Bapak Eko dan Bupati Bantul bersama 8 orang penerima bantuan dana desa. Foto by @kokogiovany


Pembangunan yang merata di daerah dan di desa khususnya, akan mengentaskan kemiskinan, meningkatkan perekeonomian dan kesejahteraan warga desa. Dalam sambutannya, bapak Eko Putro Sandjojo mengatakan bahwa manfaat dana desa sebagai momentum untuk meningkatkan percepatan kesejahteraan bagi penduduk desa. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama dan dukungan dari semua pihak, untuk sama - sama membangun dan mengawasi pelaksanaannya. "Tidak perlu ragu, kami juga telah membentuk satgas dana desa", ujarnya.


Manfaat dana desa pada tahun 2015 sebesar Rp20 trilliun, di tahun 2016 meningkat menjadi Rp46,9 trilliun dan Rp60 trilliun di 2017. Dari anggaran tersebut, hingga saat ini telah dibangun infastruktur desa, antara lain pembanguna jalan desa lebih dari 120 km, jembatan sebanyak 1.960 km, pasar desa sebanyak 5.220 unit, BumDes 21.811, Embung sebanyak 2047, irigasi 41.739,  dan sarana olahraga sebanyak 2.336.



Tak hanya bermanfaat bagi kegiatan infrastruktur,  manfaat dana desa juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa dengan adanya pembangunan 21.357 unit PAUD, 13.973 unit Posyandu, 6.041 unit Polindes, 82.356 unit MCK, 32.711 unit air bersih, 291.393 penahan tanah, 5.116 unit tambatan perahu dan 45.865 sumur. Diharapkan dengan adanya pembangunan infrastruktur desa yang semakin membaik, perekeonomian juga akan tumbuh dan meningkat, daya beli masyarakat desa juga menjadi lebih baik. Perekonomian desa akan mengalami pertumbuhan, sehingga mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja, dan menciptakan kesempatan masyarakat untuk memajukan  desanya.


Dalam sebuah kesempatan tatap muka bersama bapak Eko, beliau menjelaskan bahwa program prioritas Kementerian Desa PDTT di tahun 2017 ini meliputi One Village One Product, Embung Desa, BUMDES dan Sarana Olahraga (Sorga) desa. Bapak Eko menegaskan bahwa sebaiknya setiap desa memiliki produk unggulannya melalui program one village one product atau Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan) yang dananya didapat dari dana desa. Produk unggulan yang dihasilkan sebaiknya berdasarkan kearifan lokal, seperti produksi hasil perkebunan, pertanian maupun perikanan.


Bapak eko menutup acara Rembug Desa Nasional. Foto by @kokogiovany

Contohnya yaitu Halmahera, kawasan daerah yang berada di Indonesia bagian timur sukses menghasilkan jagung. Semua bibit, pupuk, peralatan pertanian dan tenaga penyuluh diberikan melalui dana desa. Dengan kerja keras kepala desa dan segenap warganya, Halmahera mampu menghasilkan ribuan ton jagung dalam beberapa bulan ini. Contoh lain saat ini sudah ada 600 desa yang membangun Embung air guna mencegah kekeringan. Sehingga kekhawatiran investasi pasca panen dapat diminimalisasi, pihak perbank pun mau turut serta berinvetasi pada desa.


Mengenal Bapak Eko Putro Sandjojo

Sosok pria kelahiran Jakarta, 21 Mei 1965 ini memiliki latar belakang pendidikan  Master of Business Administration dari Institut Pengembangan Managemen Indonesia (IPMI) pada tahun 1993, setelah sebelumnya menamatkan pendidikannya di bidang eletro dari University of Kentucky pada tahun 1991, merupakan sosok supel dan ramah. Menggantikan Bapak Marwan Jafar pada posisi sebelumnya, Bapak Eko mampu menorehkan prestasi sebagai Menteri Desa dalam rentang waktu selama satu setengah tahun. Dengan pengalamannya sebagai pelaku bisnis di Indonesia, beliau dengan tegas menyatakan bahwa dana desa ditujukan bagi masyarakat. Sehingga masyarakat harus terlibat dan berperan serta dalam pengelolaan dan pengawasannya.


No comments

Post a Comment

Tanda sayang

© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall