31 August 2016

Bapak, Kudo dan Pahlawan Keluarga Kami





Setiap rumah pasti tangga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, benar kan?Seperti keluarga kecil kami, dengan 2 orang anak yang memasuki usia sekolah, kebutuhan harian kamipun mulai meningkat. Hmm...ini baru 2 orang anak ya, bagaimana kalau memiliki 4 orang anak? *lalu emaknya pusing mikirin uang bulanan*


Sejak menyusui Fara, sayapun akhirnya memilih resign. Saya yang sudah bekerja sejak tahun 2002 akhirnya memilih resign dengan alasan saya ingin menyusui Fara secara ekslusif. Bukan apa-apa, saya merasa bersalah ketika Fadly lahir, ia tidak bisa menyusu pada saya. Jadilah Fadly berkenalan dengan sufor yang waktu itu cukup menguras kantong.

Namun dibalik keputusan saya resign, ada seseorang yang begitu siap menerima keputusan saya bahkan mendukungnya hingga kini. Ya, suami saya, ayah dari anak – anak saya justru mendukung 100% keputusan saya resign.

Begini ya,... selama 4 tahun kami membina keluarga, sedikit banyak ada andil saya dalam mengisi pundi – pundi keuangan keluarga. Yah mungkin jumlahnya tidak seberapa, namun paling tidak penghasilan saya dapat mengcover kebutuhan harian dan transport. Dengan saya resign otomatis beban finansial tidak bisa dibagi bersama lagi melainkan tertumpu pada satu orang, pak suami.

Pak suami bekerja di sebuah perusahaa yang menjual peralatan masak dan kebutuhan rumah tangga impor dari Korea. Tetapi lama kelamaan, kebutuhan kami tidak bisa hanya mengadalkan dari kantornya saja. Pak suamipun memutar otak untuk mencari pekerjaan tambahan. Awalnya sih pak suami ikut temannya untuk membuka jasa jual beli segala rupa, tetapi hasil yang diterima tidak rutin, hari ini ada customer, besok belum tentu ada transaksi.

Hingga suatu ketika alat transportasi online mulai booming, pak suamipun nekat ikut serta mendaftar.  Pak suami diterima menjadi salah satu driver ojek online yang ada. Di beberapa pekan pertama ketika menjalani profesi sampingan ini, kami sekeluarga sangat senang dengan penerimaan yang ada. Dalam satu hari saja pak suami bisa mendapat penghasilan Rp500.000,- - Rp600.000,- nett. Cihuykan?


Tetapi hal ini mengakibatkan waktu kebersamaan kami jauh berkurang. Pak suami berangkat kerja jam 06.00 pagi dan kembali ke rumah pukul 00.00 wib, bahkan tak jarang pukul 01.00wib. Anak – anak tidak memiliki banyak waktu dengan bapaknya. Hingga suatu hari Fadly protes dan menyatakan keberatannya karena minimnya waktu yang ia habiskan bersama bapak. 


Materi memang harus dicari, namun masa kecil anak – anak tak akan terulang lagi. Kalimat ini membuat pak suami kembali memikirkan tujuan dan tanggung jawab. Dengan berat hati, ia pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan kantorannya dan menjadikan pekerjaan sampingan, menjadi pekerjaan utama, sumber penghasilan keluarga kami.



Demi menambah pundi – pundi keuangan, pak suamipun ikut serta mendaftar menjadi agen KUDO, sebuah Kios Untuk Dagang Online.  Kudo memberikan kemudahan bagi kami sekeluarga. Tinggal daftar, buka aplikasi, dan isi saldo, kami pun bisa mulai berjualan. Tanpa perlu memiliki toko, bisa dilakukan di mana saja, tersedia jutaan produk, memiliki bonus yang menarik dan cukup dengan modal minimal Rp10.000,- kita sudah bisa berjualan menjadi salah satu agen Kudo. 





Hingga saat ini yang keuntungan yang diperoleh pak suami dari Kudo mulai terlihat hasilnya. Sedikit demi sedikit lama – lama menjadi bukit, kan?. Berkat Kudo, pak suamipun kembali memiliki quality time bersama anak – anak, namun tetap berpenghasilan. Tetap menjadi Pahlawan Keluarga kami. Terima kasih Kudo Indonesia, terima kasih suamiku sayang, karena  kalian adalah Pahlawan bagi kami.














1 comment

  1. waww , pak suami sangat menginspirasi !! tentunya tak lepas dari istri hebat nanterpuji dibaliknya ,,


    balik horden heheh

    ReplyDelete

Tanda sayang

© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall