02 August 2018

Terkecoh Jengkol di Martabak Factory




Awal menikah, saya dan suami selalu berusaha mensejajarkan langkah, mengurangi perbedaan dan mencoba menjembatani perbedaan yang ada.

Namun ternyata menikah hampir 11 tahun, banyak perbedaan yang tetap tidak bisa ditolerir antara saya dan suami. Salah satunya soal makanan.  

Saya senang jenis makanan yang manis dan sedikit gurih. Sedangkan pak suami cinta banget sama makanan yang pedas membara. Kadang kala hal remeh seperti ini malah bikin kami baper satu sama lainnya.


Bahkan sampai saat ini, ada beberapa jenis makanan yang bakalan membuat kami egois sama pilihan masing-masing. Buat saya si pecinta ikan, paling sebel kalau pak suami menolak diajak makan ikan bakar atau gulai kepala kakap. Padahal kan nikmat yaaa....


Sebaliknya, pak suami paling sebal karena saya gak suka dengan jengkol, dan memilih gak jadi pergi makan kalau menunya adalah jengkol.  Mau diolah menjadi menu apapun, saya tetap menolaknya. Duh ogah deh baunya....


Satu hari saya dan beberapa teman diundang meeting di satu tempat. Menu yang ditawarkan beragam. Mulai dari paket nasi, cemilan seperti sosis-kentang-nugget, hingga martabak. Yes ada martabak telur kesukaan saya.


Terkecoh, kirain sambal taichan...


Menjelang pulang, teman saya berbisik kalau ia membungkuskan beberapa menu untuk saya bawa pulang. "Loe kan suka martabak telur, tuh udah gue bungkusin yeee", ujarnya berbisik ke telinga saya. Tanpa ragu, saya menerima kantong plastik yang diberikan.



Saya lupa kalau malam itu, Fadly dan Fara sedang menginap di rumah Eninnya. Jadilah hanya kami berdua di rumah, malam itu. Melirik ke kantong plastik saya sempat berguman, siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini ya😂😂.


Pak suami yang menunggu saya malam itu nampak senang ketika saya memberikan kotak kemasan berisi makanan. "Wah martabak telur ya. Ini atasnya dikasi apa?", pak suami bertanya seraya mencicipi makanan tersebut. Saya yang memang tak melihat isinya hanya menjawab martabak telur taichan tanpa melihat dengan jeli.


"Wah enak martabaknya, ini diatasnya dikasi  jengkol balado nih. Kamu sudah coba?"  ...Duarrr...kaget donk saya. Tanpa bau,  jengkol tersebut terasa enak dan gurih berpadu dengan martabak telur kesukaan saya. Dan saya sudah makan kira - kira 10 potong 😱😱😱 



Tuh, gak keliatan si jengkol...


Masa iya sih itu jengkol, kok rasanya enak, gak berbau dan cukup lembut. Penasaran, saya WA teman yang memberikan menu tersebut. Dan jawabannya bikin saya lemas 😂😂😂itu memang martabak telur jengkol balado.

Begitu saya ceritakan kembali ke pak suami, ia tertawa dengan puasnya. "Gimana, enak kan jengkol. Gak bau kan? Ya karena diolah dengan bumbu yang enak. Jengkol itu mengandung antioksidan tinggi, baik untuk mencegah penyakit kronis. Makanan sehat gitu, ditolak", ujarnya. Antara malu dan gengsi, saya iyakan perkataannya.

Ini menu lainnya dari Martabak Factory. Kobasu = kopi balok susu

Martabak telur cabe ijo. Endeus...


Martabak telur Jengkol balado Martabak Factory, membuat saya ketagihan makan jengkol malam itu. Dan ya memang benar, olahan jengkol yang lembut, tanpa bau, dan bumbu yang menyatu, mengecoh saya. Ingin rasanya memesan kembali untuk dinikmati bersama keluarga. Apalagi bulan depan, anniversary pernikahan kami, rasanya bisa dirayakan di Martabak Factory. Ada beragam menu yang cocok untuk Fadly, Fara dan kami berdua.

Kalau teman² ada yang suka jengkol? Biasanya dibuat menu apa? Share yaaa...



No comments

Post a Comment

Tanda sayang

© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall