02 September 2018

Pengalaman menjadi Volunteer Asian Games 2018






Ini adalah kisah nyata pak suami selama ia mengikuti perhelatan akbar Asian Games 2018. Sangking hepinya, setelah mengikuti closing ceremony, ia langsung membuat draft tulisan ini dan mengirimkannya ke saya. Saya tahu, ia bangga dan senang bisa turut ambil bagian mendukung Asian Games 2018. Saya dan anak-anakpun bangga, bahwa pak suami terpilih sebagai satu dari 13 ribu volunteer yang ada. We proud of you, 'pak 😘😘😘





*******


Awalnya ga kepikiran untuk ikutan ajang ini. Sempat beberapa kali dikirimin dari gup WA link buat daftarnya. Tapi tetep ga tergerak buat ngisi formnya dikarenakan lebih fokus ngejar poin tiap hari diojek online. Sampai akhirnya, menjelang penutupan pendaftaran, tersentuh juga hati ini buat turun tangan berkontribusi untuk bangsa dan negara. Tsaelaaaaah.


Btw, saya seorang tukang ojek sejak pertengahan 2015, dimana saat itu penghasilannya bisa tembus belasan juta rupiah perbulan. Tapi itu dulu, sekarang mah boro². Bisa bawa pulang 200rb aja udah seneng bukan mainπŸ™ˆπŸ˜‚.


Balik lagi ke Asian Games. Waktu daftar itu kalau ga salah sekitar akhir 2017. Baru kemudian dapat info pengumuman untuk psikotest di bulan April. Lama banget ya jedanya. Saya saja nyaris lupa kalau tidak diingatkan istri untuk cari informasinya. 


Nah, waktu pengumuman psikotest, ternyata nama saya ga ada. Ya udah, nothing to lose. Emang belum rejekinya mungkin. Selang dua hari kemudian, masuk email undangan untuk ikutan psikotest yang tanggalnya ternyata hari ini dan jamnya udah lewat. Akhirnya berbekal gerilya tanya sana sini, browsing ini itu, dapet juga panitia yang bisa dihubungi untuk reschedule test. Dapatlah hari berikutnya dan  tanpa persiapan. Saat psikotest diharuskan memakai atasan berwarna putih dan bawahan hitam. Udah kaya event blogger yang biasa dihadiri istri saya aja, pake dresscode segala. Alamak, saya ga punya. Akhirnya coba hubungin beberapa teman ojekers yg punya "kostum" tersebut, dan dapat. Alhamdulillah aman.



Kelar psikotest, tenyata masih ada dua tahapan training yang harus diikuti. Ada training NOR (Nilai² Keolahragaan) dan GT (General Training). Rentang waktunya lumayan jauh. Sekitar 1 dan 2 minggu. Di NOR, diajarkan mengenai sejarah Asian Games, siapa² aja yang hadir nanti selain Atlet dan Official, cabang yang dipertandingkan, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Asian Games. Sedangkan General Training, materi yang diberikan berupa, cara komunikasi, pengetahuan tentang tempat wisata dan kuliner, pengembangan karakter dan Interpersonal skill. Lumayan, nambah ilmu walaupun umur udah mendekati kepala 4.



Lalu tiba lah hari yang ditunggu tunggu. Pembagian zona kerja. Kebetulan saya ditempatkan di Cluster 2, yaitu area di luar zona GBK + Pondok Indah. Tepatnya di GOR POPKI, Cibubur, yang kebetulan dekat dari rumah. Cabang olahraga yang ada di sana adalah HandBall, termasuk cabang olahraga yang masih asing pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Akan tetapi, cabang olahraga ini merupakan cabang olahraga dengan jadwal terpadat ke-2 setelah sepakbola.




Di sini saya ditugaskan di divisi Transportation bersama 17 orang lainnya. Yaitu divisi yang mengurus transportasi untuk Atlet, ITO, NTO (National Technical Officer) dan Tamu VIP. ITO adalah International Techninal Officer yaitu kebanyakan terdiri dari wasit, juri dan sejenisnya, tapi dengan level internasional.



Jam kerja saya dan teman² seperti anak kantoran, 8 jam sehari. Dalam satu hari, kami dibagi dua shift. Pagi jam 7 - 15, sore 15 - 23. Itu schedulenya, kenyataannya sih fleksibel mengikuti schedule atlit baik itu ketika berlatih ataupun saat bertanding. Untuk POPKI sendiri, venue area digunakan mulai dari tanggal 11 hingga 31 Agustus 2018.


Memasuki hari pertama bertugas sebagai volunteer, kami dari transportasi, merupakan orang pertama yang menyambut kedatangan atlet di venue. Setelah diantar ke changing room, barulah tugas kita selesai "untuk sementara". Ya, karena kita juga harus mengurus kepulangannya lagi menggunakan transportasi yang sama seperti saat kedatangan. Kecuali apabila ada trouble di armada, kami harus dengan cepat mencari penggantinya. 




Di sini kebetulan saya dan team dibantu oleh teman-teman dari Transjakarta. Alhamdulillah kami bisa bekerjasama dengan baik selama perhelatan akbar ini. Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan serta tim Patwal dari Kepolisian untuk urusan rute dan pengawalannya.


Tim Patwal siap mengawal bus transjakarta kembali ke wisma atlet


Busnya kece loh



Banyak sukanya dibanding dukanya selama menjadi volunteer Asian Games ke 18. Dukanya  sih paling kaki dan pinggang pegalπŸ˜‚πŸ˜“. Malahan beberapa teman satu team saya ada yang sampai terkilir. Karena kebanyakan berdiri, jalan bahkan berlari ketika kami bekerja. 


All volunteer dan panitia pelaksana


Sukanya bertemu adik-adik baru dengan latar belakang berbeda, teman-teman baru juga, dapat apparel (kaos-celana-tas-topi-jaket-sepatu-kaos kaki) yang kalo diduitin senilai jutaan rupiah, dan puncaknya bisa menghadiri parade volunteer pada saat closing ceremony di GBK yang ditonton puluhan ribu pasang mata, serta jutaan orang dari berbagai penjuru dunia di televisiπŸ‘πŸ‘πŸ‘.



Kebayang kerennya kaya apa GBK now




Ada juga hal yang bikin kami sebagai volunteer geleng² kepala. Yah atlet kan juga manusia ya. Punya ketentuan alam yang gak bisa dilawanπŸ˜‚. Satu hari, selepas bertanding, team China sudah duduk manis di bus Transjakarta, siap kembali ke wisma athlete, Kemayoran. Sesuai tugas, setiap team atlet yang datang kami absen, maka saat atlet pulang, volunteer mengabsen sesuai jumlah kedatangan. Ternyata satu atlet dari team Handball China hilang tanpa kabar. Panik donk, kami pun semua mencarinya, menyisir venue POPKI, mencarinya ke berbagai penjuru mata angin. Ternyata yang bersangkutan sedang asik menikmati waktunya alias kebelet di toilet πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Sejak saat itu jika jumlah atlet yang datang berkurang saat absen pulang, toilet adalah tempat pertama yang didatangi teman² volunteers, untuk memastikan tidak nyempil di toilet lagiπŸ™ˆπŸ˜‚.





Saya sendiri bersyukur banget bisa ikut serta berpartisipasi di Asian Games 2018 ini. Nama saya juga dipastikan akan tercantum dilist Arsip Nasional Republik Indonesia. Dan akan jadi pengalaman luar biasa seumur hidup yang bakal seru untuk diceritakan ke anak cucu saya kelak. Karena untuk menjadi tuan rumah di ajang 4 tahun sekali ini, negara kita harus antri lagi dan berebut posisi bersama lebih dari 40 negara lain. Entah kapan....

2 comments

  1. Masya Allah 😍
    Saya kagum lho sama para volunteer. Wow keren lho pengalaman ngurusin event internasional seperti ini.
    Keren, suami Mbak Sally kepilih. Ikut bangga, boleh kan? 😍

    Eh keren juga lho masih kuat kakinya jelang 40 hehe

    ReplyDelete
  2. Sangat sangat menginspirasi Kak.
    Ya Allah perjuangan untuk menyukseskan AG 2018 akan terkenang sepanjang hayat ini. Saya juga agak sedih ga bisa turut nonton karena jauh.

    Alhamdulillah semoga suami kakak sellau diberikan perlindungan dari Allah dan keluarga kak Sall.

    ReplyDelete

Tanda sayang

© Cerita Keluarga Fauzi
Maira Gall